Mayoritas rakyat Indonesia sudah tau bahwa penolakan terhadap Ahok sudah berlangsung sejak 15 Oktober 2014, bersamaan dengan deklarasi GMJ (Gerakan Masyarakat Jakarta). GMJ didukung oleh FPI dan FUI, yang kemudian mereka bersama-sama mendeklarasikan gubernur tandingan, Fahrurozy Ishak.
Kelompok ini mendapar support dana dari H.U Tarunajajo yang merupakan salah satu pengurus Majelis dzikir Pak Mantan Nurussalom. H.U T merupakan operator politik dalam menggalang sejumlah majelis taklim (terutama) di Jakarta agar memilih Pak Mantan pada pemilu 2009.
Jika diperhatikan, kelompok ini sudah berkali-kali melalukan aksi demo Ahok, dalam banyak hal.
- 10 November 2014, GMJ dan KMP deklarasikan gubernur tandingan.
- 1 Desember 2014, FMJ, FBR, FPI menolak Ahok (masih dalam rangka gubernur tandingan)
- 24 Maret 2015, GMJ mengajukan hak angket tolak Ahok
- 28 Maret 2015, FUI demo terkait kata kasar Ahok
- 29 Mei 2015, FBR kembali mendemo Ahok
- 1 Juni 2015, GMJ, FPI, FUI, GOIB dan FBR
- 6 November 2015, Demo forum mahasiswa Islam
- 23 November 2015, komite tangkap dan penjarakan mafia APBD
- 19 April 2016, komunitas nelayan tradisional menolaj reklamasi.
- 20 Mei 2016, Aliansi Masyarakat Jakarta Utara dan FBR demo kasus korupsi Sumber Waras
- 23 Juni 2016, demo warga penjaringan Jakarta Utara
- 12 Agustus 2016, Gerakan Arek Surabaya
- 25 Agustus 2016, Jaringan Masyarakat Miskin Kota Jakarta
- 21 September 2016, Aliansi Gerakan Selamatkan Jakarta
- 22 September 2016, Indonesia Bergerak (penggusuran dan pelanggaran HAM). Demo gabungan dengan FPI.
- 24 September 2016, demo FPI
- 14 Oktober 2016, demp FPI
- Demo 4 November 2016
Melihat perjalanan demo tolak Ahok yang terjadi sejak tahun 2014, kita tidak bisa mengabaikan bahwa rencana demonstrasi ini tersusun rapi dan sistematis. Sehingga sulit untuk kita abaikan bahwa ini sangat disengaja, dan puncaknya adalah Pilgub 2017. Sebuah agenda besar yang disiapkan sejak 2014, sejak Pak Mantan tak bisa berkompetisi, saat Ahok naik jadi Gubernur dan hampir pasti kembali maju pada Pilgub selanjutnya.
Jika kita lihat demonstrasi 4 November lalu, kelompok yang datang mendemo itu-itu saja. FPI, FUI, GMJ dan seterusnya. Mereka mendemo tolak Ahok, apapun kasusnya. Mulai dari reklamasi sampai Sumber Waras. Pendemo adalah kelompok yang sama. Mereka memanfaatkan setiap celah untuk melakukan demonstrasi.
Mereka sangat sadar karakter Ahok yang sangat reaktif. Ini terlihat dari satu kesempatan Ahok mengajukan pembubaran FPI. Untuk itulah kemudian HTI melakukan demo tolak Ahok dengan alasan haram memilih pemimpin kafir. Seminggu setelahnya Ahok bereaksi, saat sosialisai bantuan dengan warga kepulauan seribu, Ahok mengatakan:
“Jadi saya cerita ini supaya bapak ibu semangat. Ga usah kepikiran ‘ah nanti kalau ga kepilih, pasti Ahok programnya bubar’ nggak, saya sampai Oktober 2017. Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu ga bisa pilih saya, karena dibohongin pake surat almaidah 51 macem-macem itu. Itu hak bapak ibu ya,” kata Ahok.
Saat itu tak ada yang protes. Warga kepulauan seribu tertawa mendengar celoteh Ahok. Namun kemudian muncul si provokator Buni Yani, yang memperpendek video, menuliskan transkrip berbeda dan tambahan kalimat provokatif:
PENISTAAN TERHADAP AGAMA? (menggunakan tanda tanya, tapi seolah-olah menyatakan) “Bapak ibu (pemilih muslim)…dibohongi surat Almaidah 51….(dan) masuk neraka (juga bapak ibu) dibodohi”
Dari sinilah kemudian Ahok disebut melalukan penistaan agama. Didkung oleh surat MUI yang sangat salah kaprah.
Dengan pembentukan opini tersebut, surat MUI yang disinyalir bermuatan politik kemudian menjadi legitimasi kuat bahwa Ahok memang melakukan penistaan agama.
Kemudian kelompok yang sudah mendemo Ahok sejak tahun 2014, kini semuanya berkumpul, bersama-sama mendemo Ahok. Mengingat mereka behasil mengumpulkan massa yang banyak, membodohi masyarakat yang tak mengikuti cerita ini sejak awal, maka agenda lebih besarnya adalah melengserkan Jokowi.
Itulah sekilas gambaran tentang demo 4 November dan kaitannya dengan Pak Mantan. Bagaimanapun dokumen yang ada di tangan saya sekarang masih berlembar-lembar, rencananya akan saya buka semuanya dalam beberapa artikel ke depan.
Terakhir, penting untuk kita ketahui bersama, maklum saja kalau Pak Mantan galau dan prihatin, sampai curhat, sebab salah satu kabinetnya dulu berhianat lalu mengirim dokumen analisa keterlibatan Pak Mantan dan Cikeas dalam upaya melengserkan Jokowi. Sehingga Pak Mantan mengatakan agar jangan langsung percaya dengan laporan intelijen dan seterusnya, sebab memang sudah dag dig dug dokumennya diterima Presiden Jokowi.
Penulis : Alifurrahman
Editor : Athen
Sumber : Seword.com

0 comments